Sunday, August 22, 2010

UNTUK MAKHLUK YANG INDAH

Nayla tak bisa lagi menahan air matanya. Sudah enam jam lebih dadanya berdetak tak karuan, menunggu kepastian dari dokter tentang keadaan ibundanya. Ia tak bisa berbuat apa apa meski ia juga seorang calon dokter. Hipoglikemia itu menyerang tubuh kecil ibundanya. Dokter masih melakukan banyak usaha untuk menstabilkan gula darahnya. Nayla ingin berteriak saja, bila tak pedli dengan keadaan pasien lain..Ia bergegas menuju mushola di dekat ICU..mengadu kepadaNya pemilik kehidupan mungkin cara paling efektif untuk menghapus kesedihannya..
Di ambil air wudhu lalu di jalankan raka’at demi raka’at. Sujud terlama yang pernah di lakukan, karena selama ini Nayla bukan gadis yang taat beribadah. Pelajaran di kampus membuatnya terlalu sibuk untuk sekedar bersujud syukur. Tapi sujud ini sujud pasrah yang ia lakukan. Doa panjang yang dilakukan demi kesembuhan ibu
Sekembali dari mushola ia masih mendapati Bapak, kakak dan adiknya tertunduk lemas. Menunggu dokter yang memonitor kondisi tubuh ibu..
Nayla tiba tiba merasa belum cukup membalasnya. Mereka semua belum cukup membalasnya. Andai nayla bisa memutar waktu demi sebuah kesehatan bagi ibundanya. Hal yang sangat berharga saat ini.
Tiba tiba saja Nayla ingin menulis surat untuk ibunya. Kebiasaan yang di tularkan ibunda sedari kecil sehingga selain menjadi mahasiswa, Nayla menjadi penulis produktif di salah satu majalah kampus. Surat yang akan ia berikan pada ibundanya saat sehat nanti. Yah, Nayla yakin ibunda akan sehat..makanya ia menulis surat
Diambil buku kecil warna kuning yang selalu menemaninya. Nayla membayangkan wajah manis ibunda..dan ia mulai menulis dengan kesungguhan. Dengan doa yang ia lemparkan dari mushola ke langit agar Sang Kuasa mau mengabulkannya…iringan perasaan dari surat ini tentu akan membantu percepatan doa itu sampai kelangit.
Pikirannya sudah sangat sederhana…Nayla hanya ingin ibunda sembuh maka ia mulai menggoreskan tinta di kertas buku itu..

Untuk makhluk yang indah, cahaya kehidupan, jantung yang berdetak dengan rasa cinta dan kasih sayang, yang menanggung banyak beban demi mencetak masa depan yang gemilang untuk anak anaknya dengan jari jarinya yang suci, yang menghindar dari keramaian dunia, hidup demi anak anaknya dengan ikhlas, jujur dan setia demi memetik buah yang di tanan dan di rawatnya..
Ibuku tercinta...

Paras ayu yang selalu menyejukkan mata orang yang memandangnya..Putih bersih meski tanpa pulasan make up. Mungkin karena tiap malamnya di basuh dengan air wudhu mendoakan keluarga tercinta. Fisik, dia memang tak semampai model ibu ibu modern,hanya 150 cm.. Bobotnya sedikit berlebih, terlalu seiring mengikuti pola makan anak anaknya yang “hantam rata”.. Alisnya tipis, menurun padaku. Hidungnya tidak mancung, namun proposional untuk wajahnya. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum.Tak usah di tanya mengenai rambutnya, karena telah tertutup oleh jilbab manis setiap waktu bertemu dengan orang yang bukan mahramnya..Gerakannya lincah, hingga banyak pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan sekaligus dalam satu waktu..

Ibunda Marsiti. Nama ndeso kah?tidak buatku.Personality, banyak orang memandangnya sebagai orang yang agamis. Ibu tak pernah mau keluar dari rumah, malas ikut bergosip katanya. Tetangga bilang ibu kurang gaul, tapi ketika beliau keluar rumah, banyak amanah yang di berikan untuknya..Ah, aku selalu tertawa bila mengingatnya. Bagaimana orang yang kurang gaul bisa mengingat nama orang hingga tetangga RW, plus saudara saudaranya. Bagaimana orang yang kurang gaul hapal masakan apa yang di sukai Mbah ‘ini’, kain batik apa yang suka di pake Budhe ‘anu’, Pak ‘itu’ yang paling sering jalan pagi bersama anaknya. Ibu memang punya personal approach yang keren.. ..


Di rumah, Ia adalah orang perfeksionis yang paling berhasil di mataku. Dari subuh, semua hal ia bereskan, hingga hal remeh temeh, hingga hal paling detail untuk rumah,anak anak ataupun suaminya. Kami semua di rumah menjadi teramat santai, karena toh kami terbiasa dengan fasilitas “ tinggal pakai” yang ibu sediakan tanpa perlu repot repot mengurusinya ( dan jujur, meskipun aku anak perempuan satu satunya yang punya kewajiban besar membantu, akupun turut merasakan fasilitas itu sedari kecil ). Ibu selalu mendidik kami agar rajin belajar, rajin belajar, rajin belajar dan tidak manja.

Aku selalu ingat kisah masa kecil Ibu yang berkali kali beliau ceritakan. Untuk memotivasiku. Pengalamannya menjadi pembantu di rumah saudara sendiri. Tentang bagaimana tubuhnya yang mungil ketika berumur 7 tahun, sudah harus pergi ke sungai yang jaraknya jauh dari rumah orang tua ( yang kusebut Pakdhe kini ) tanpa penerangan, di subuh yang dingin. Tentang bagaimana tangan kecilnya mencuci 2 bakul cucian orang serumah kala itu( 2 orang dewasa dan 5 anak anak, termasuk ibuku ) dengan kecemasan kalau kalau ada ular yang hanyut di sungai yang nyasar ke kaki lemahnya. Tentang bagaimana Ia belajar dengan satu tangan memegang buku untuk menghapal sedang tangan yang lainya bekerja.Menyapu,melap perabotan rumah, menyuapi keponakan keponakan kecil, menyiram tanaman. Tentang rasa untuk tampil cantik sebagai seorang gadis remaja, mengalahkan rasa laparnya. Ia sisihkan uang jajan yang di dapat tak seberapa tiap hari, untuk membeli pita pita manis penghias rambut. Agar semata mata tampil cantik tidak kumal,tidak terlihat seperti pembantu. . tentang doa panjang memakai bahasa jawa ( karena ibu tidak hapal doa dengan bahasa arab) plus deraian air mata sebelum tidur, berharap kelak ia bisa menemukan kebahagiaan yang ia idamkan, tak muluk...Cuma ingin kelak anaknya tak sengsara sepertinya..

Maka doa itulah yang ia wujudkan ketika mendidik 3 orang anaknya ( termasuk aku ). Dari kecil, Ibu mendidik untuk belajar tekun. Mungkin karena background pendidikan guru. Kami semua percaya bahwa ketekunan bisa mengalahkan orang pintar tapi malas berusaha. Ibu mendidik kami untuk tahu tempat dan waktu. Kapan kami bermain, kapan kami belajar, kapan kami berantem ..Ibu selalu menekankan optimisme pada diri kami. Tidak ada yang tidak bisa kami raih bila kami percaya kami mampu. Ilmu yang Ibu terapkan, jauh sebelum “ Law of Attraction” atau “ The Secret” ada. Punishment dan reward telah ia berikan di sepanjang masa kecilku yang indah ( tapi asal tau saja, punishment dari ibu, bentuknya kami harus belajar dan tak boleh main, tetap positif kan?) Ibu selalu mengungkapkan mimpinya.. untuk bisa memiliki anak anak yang menjadi pegawai sukses di kantor, pengusaha dan dokter. Tidak! Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya untuk masa depan kami. Tapi impian ibu, sama dengan impian kami..

Ibu juga mengajarkan kepada kami tata cara bersosialisasi dengan baik. Aku ketika masa SMP, sengaja di biarkan mengikuti (hampir ) semua organisasi dan ekstrakurikuler di sekolah. Nilaiku tetap bertahan meski tidak secemerlang ketika SD. Tapi aku menjadi gadis yang berani mengungkapkan pendapat, berani tampil di depan umum menjadi pembicara, loyal dan bertanggung jawab atas jabatan yang di berikan di organisasi kala itu. Begitupun kakak dan adikku. Ibu dengan pikiran luhurnya tahu bahwa berorganisasi bisa membuat kami berlatih menenggang rasa, agar tidak melulu menjadi manusia egois..

Ibunda tak pernah suka aku menangis tersedu sedu suatu masalah. Tapi pundak, pelukan hangat dan usapan lembut di rambutku selalu tersedia bila Ibu melihat putri satu satunya rapuh, tertunduk lesu karena hempasan gelombang kehidupan. Ia tak pernah menunjukkan empatinya dengan ikut menangis, tapi cukuplah bagiku melihat matanya yang ikut terluka itu. Aku pernah berbohong padanya, pernah ketahuan dan Ia hanya memintaku untuk berkata jujur. Sesudah itu Ia akan berkata “ Putriku yang baik hati, ibu kan sayang sama mba makanya ibu pengennya mba bahagia. Kebohongan membuatmu gelisah dan tidak bahagia kan?”

Ibu,, kisah dengan segala puji akan terus mengalir.. Ibu yang penuh optimisme, yang punya banyak potensi tapi memilih mendidik anaknya dan diam di rumah..Ibu yang tak pernah mengeluh sakit dan hanya berkata “ Cuma masuk angin” ...bertahanlah kini..
Sabar ya ibuku sayang. Aku sedang berjalan menapaki tangga ini, tangga yang telah kupilih, tangga yang kita impikan berdua..Ibunda harus sehat,bangun pelan pelan dari duduk Ibu. Tidak usah terburu buru. Kalaupun Bapak tidak sabar menunggu Ibu, masih ada aku yang akan menutup pintu rumah terakhir dan mengunci pagar. Jangan mengeluh, jangan terlalu sering menampakkan sisi ‘pesimis’mu kini, karena aku butuh sisi yang lain. Rajin lakukan apa yang aku ceritakan dan anjurkan pada ibu, karena aku mencintaimu dan tak ingin melihatmu sakit. Aku sadar, aku jarang menunjukkan baktiku. Salahku bu, bukan salah didikanmu. Maafkan aku yang tak pernah menyadari gejala yang Ibunda tampakkan dari dulu. Pipis sering di malam hari, gampang haus dan lapar. Aku sok sibuk dan sok penting. Tapi kini, aku sedang berproses menjadi anak yang sholehah buat ibu..
Ibuku yang sangat berharga, aku rela berkorban untukmu, semenjak engkau melahirkanku dengan dorongan naluri cintamu.. jadi kumohon kembalilah memberiku semangat dengan seyumanmu..Cepat sehat ibu..
Usaha,Tenang, Sabar,Optimis, Jujur dan Doa..itukan bu yang selalu kuperlukan?

Terilhami dari satu hadist “ Tidaklah ada pemberian yang lebih baik dari orang tua kepada anaknya daripada pendidikan adab yang baik” ( HR. Bukhari )

2 comments:

  1. Ini kisah nyata?????
    Bener2 menyentuh...
    Mengingatkanku yg masih blum bisa membahagiakan kedua orang tuaku...apalagi skarang aku jauh dari mereka...

    ReplyDelete
  2. iyah mba..dengan sedikit perubahan di beberapa tempat:)di posting biar selalu ingat sama orang tua tercinta..

    ReplyDelete

open for comments^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...